Kisah Istri-Istri Si Raja Naipospos

partarombo
partarombo
3 menit baca

Dua Boru Pasaribu: Kisah Istri-Istri Si Raja Naipospos dan Mataniari Bissar Keturunannya

Si Raja Naipospos adalah salah satu tokoh leluhur (nenek moyang) penting dalam silsilah marga Batak Toba, yang menurunkan tujuh marga besar: Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, Lumbanbatu, Banjarnahor, dan Lumbangaol. Di balik kisah turunannya yang tersebar luas, terdapat cerita tentang istri-istrinya yang memiliki peran sentral dalam keberlanjutan garis keturunan ini.

Berdasarkan tradisi dan tarombo (silsilah) yang dituturkan oleh keturunannya, Si Raja Naipospos dipercaya memiliki dua orang istri. Menariknya, kedua istrinya ini sama-sama berasal dari marga Pasaribu.

Boru Pasaribu: Mataniari Bissar Pomparan Naipospos

Dalam adat Batak, istri dari leluhur utama sering kali dihormati sebagai "Mataniari Bissar" (Matahari Terbit), yang melambangkan sumber kehidupan dan terang bagi keturunan yang dilahirkannya. Bagi seluruh keturunan Si Raja Naipospos (pomparan Naipospos), marga Pasaribu mendapat tempat istimewa sebagai Mataniari Bissar mereka.

Berikut adalah rincian mengenai kedua istri Si Raja Naipospos:

Istri Pertama: Ibunda dari Empat Anak Mula-mula

Istri pertama Raja Naipospos adalah Boru Pasaribu. Meskipun namanya secara spesifik tidak selalu tercatat dalam setiap versi tarombo, perannya sangat krusial. Konon, pada awalnya pernikahan ini belum dianugerahi keturunan, sebuah hal yang sangat didambakan dalam budaya Batak.

Dari istri pertama ini, Si Raja Naipospos dikaruniai empat orang putra yang kemudian menjadi cikal-bakal empat marga pertama:

  1. Donda Hopol (cikal-bakal marga Sibagariang)
  2. Donda Ujung (cikal-bakal marga Hutauruk)
  3. Ujung Tinumpak (cikal-bakal marga Simanungkalit)
  4. Jamita Mangaraja (cikal-bakal marga Situmeang)

Keempat putra inilah yang meneruskan garis keturunan Si Raja Naipospos di awal dan mewarisi pembagian harta serta tanah pusaka.

Istri Kedua: Ibu dari Raja Marbun

Istri kedua Raja Naipospos juga bergelar Boru Pasaribu. Raja Naipospos tidak sabar menunggu keturunan dari istri pertama boru Pasaribu, sehingga secara diam-diam ia mengambil istri kedua yang adalah adik kandung istri pertama. Tanpa diduga istri pertama dan kedua sama-sama mengandung , Kehadiran istri kedua ini melengkapi keturunan Raja Naipospos.

Dari istri kedua ini, lahirlah putra kelima:

  • Marbun

Putra bungsu ini kemudian memiliki tiga orang anak laki-laki yang menjadi cikal-bakal tiga marga yang dikenal sebagai sub-marga Marbun: Lumbanbatu, Banjarnahor, dan Lumbangaol. Inilah yang membuat keturunan Naipospos dikenal sebagai "Naipospos silima saama pitu marga" (Naipospos lima seayah tujuh marga).

Pentingnya Boru Pasaribu dalam Tarombo Naipospos

Marga Pasaribu sebagai istri Raja Naipospos memegang teguh ikatan kekerabatan yang sangat erat dengan seluruh keturunan Naipospos. Dalam struktur adat Batak, hubungan Hula-hula (pihak pemberi istri) seperti Pasaribu kepada keturunan Naipospos (Boru) adalah hubungan yang sangat dihormati dan dianggap sebagai sumber berkat (Sinur ni tondi, huhut gabean).

Kisah istri-istri Raja Naipospos adalah cerminan dari tradisi Batak di mana kehadiran seorang istri yang melahirkan keturunan adalah kunci untuk kelangsungan hidup dan kemakmuran marga. Peran Boru Pasaribu tidak hanya sebatas pendamping, tetapi sebagai fondasi yang melaluinya tujuh marga keturunan Raja Naipospos dapat berkembang hingga saat ini

๐Ÿ‘๏ธ
24dilihat
๐Ÿ‘
3suka

๐Ÿ’ฌ Komentar (0)

Login untuk menambahkan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!